Tropical Malady ★★★½

Menurut saya, latar belakang tema penceritaan yang berusaha
diangkat oleh sutradara Apitchapong sedikit menyinggung dengan peristiwa berdarah yang terjadi di Thailand pada tahun 2004, yaitu Peristiwa Krue Se dan Peristiwa Tak Bai. Kedua peristiwa tersebut masih termasuk ke dalam rangkaian konflik asimilasi yang terjadi di Thailand sejak tahun 1902.
Thailand memiliki sejarah atas kekerasan dan pemberontakan, hal ini
mulai terjadi ketika Thailand (Siam pada masa itu) menganeksasi Kesultanan Patani (catatan: “Patani” adalah Kesultanan Thailand Selatan, sedangkan “Pattani” adalah salah satu provinsi di Thailand Selatan) pada tahun 1902 yang kemudian melahirkan gerakan-gerakan separatis. Separatisme dilakukan karena pada kala penganeksasian, terdapat kebijakan asimilasi dari segi linguistik dan kebudayaan. Asimilasi ini merupakan kegagalan Negara karena menimbulkan diskriminasi kepada penduduk Patani yang mayoritas Melayu Muslim yang dihadapkan dengan budaya Thailand yaitu Thai Buddhist. Larangan menggunakan bahasa Melayu, larangan mengajar ajaran Islam di sekolah-sekolah dan tindakan represif aparat Negara terhadap protes masyarakat Melayu Muslim seperti pelanggaran hak asasi mereka, pembunuhan di luar prosedur hukum dan penghilangan paksa. Beberapa hal yang disebutkan ini adalah bentuk-bentuk diskriminasi yang dilakukan oleh
Negara Thailand (Achmadi 2016).
Konflik Asimilasi yang terjadi di Thailand terus berlanjut hingga pada tahun 2004, periode tahun yang sama dengan waktu rilisnya film Tropical Malady dan tahun-tahun setelahnya. Berdasarkan hal itu, membuat penulis berusaha menghubungkan dengan kesamaan karakter pada kedua penceritaan di dalam film
ini,; yaitu terkait adanya seorang karakter anggota militer yang sama-sama diperankan oleh Banlop Lomnoi. Seperti halnya sikap pemerintahan Thailand yang lebih pro dengan budaya Thai Buddhist, hal ini juga tergambar pada karakter Keng. Sebagai seorang anggota militer Thai, Keng lebih akrab dengan masyarakat Thai Buddhist bahkan menjalin asmara dengan salah satu penduduknya, yaitu Tong. Meski disadari atau tidak oleh sutradara Apitchapong, logika tendensi keberpihakan anggota militer seperti Keng terhadap penduduk yang non-Melayu Muslim dapat dipahami sebagai sikap keharusan yang keluar dari seorang abdi negara. Sedangkan tema penceritaan yang kedua dalam kaitannya dengan konflik diskriminasi di Thailand, membuat penulis mengalegorikan karakter dukun harimau yang meresahkan masyarakat tersebut sebagai masyarakat Melayu Muslim yang selama ini berusaha dimusnahkan oleh pemerintah Thailand.
Secara umum meskipun kedua cerita dalam film ini tidak memiliki hubungan kausalitas yang jelas, namun dapat penulis analisi bahwa keduanya memilki kesamaan dalam hal statement penyutradaraan yang coba disampaikan oleh Apitchapong. Berdasarkan sebuah qoatation Tom Nakajima di awal film yang berkonteks sama dengan qotation di film The Salt of The Earth (2014) karya Wim Wenders yang berbunyi "We human are terrible animals" cukup menyakinkan penulis bahwa film ini mempunyai kecenderungan tema dalam soal nafsu manusia untuk menguasai sesuatu (baik manusia lainnya, hewan atau lingkungan) yang baginya bermanfaat.